Sabtu, 08 April 2017

Nuansa Khatulistiwa Dipha Barus - All Good


Sudah jadi kebiasaan jika setiap akhir pekan atau waktu luang mencari-cari lagu yang bisa masuk ke playlistku. Realitanya emang gak selalu nemu lagu yang sesuai ama kupingku walau mungkin ada yang baru. Tapi kali ini ada satu lagu yang mengingatkanku kepada lagu lainnya, semacam menguak 'kenangan masa lalu'.  Lho tidak masalah dihantui oleh masa lalu apalagi soal urusan lagu, aku adalah orang yang bisa saja semena-mena melawan arus selera/trend industri musik karena sometimes gak hanya ndengerin lagu buat nemenin nangis di pojokan tapi juga menikmati seberapa jauh seni itu bekerja.

Akhirnya nemu satu lagu yang bikin kuping dan memori otak menjadi auto flashback sekaligus termanjakan. Dipha Barus feat Nadin dengan All Good-nya tidak membuat aku heran jika lagu ini ternyata dibuat oleh hasil kreasi anak bangsa. Walaupun merasa nggak gitu heran tapi seenggaknya spontan ngomong dalam hati "lagunya kok beda". Jadi apa sih sebenernya yang membuat lagu ini bisa jadi mengingatkan kepada lagu lainnya bahkan yang aku bicarakan ini lagu yang benar-benar sudah lintas genre?

Jika orang mengatakan seni itu tidak ada batasanya maka aku adalah orang pertama yang kurang setuju, dalam hal ini tak terkecuali lagu. Kenyataannya batasan-batasan tertentu dalam seni membuat karya tersebut dapat diterima, baik mencakup aspek sosiologis ataupun geografis. 'Dipha Barus - All Good feat Nadin' ini aku rasa memberikan nuansa yang sama dengan 'Let's Dance' atau 'Layang-Layang'-nya 'Tohpati' hingga lagu 'Symphony Yang Indah' yang pernah dibawakan kembali oleh 'Once'. Mengapa bisa demikian? karena kuping ini menangkap sisi keceriaan Indonesia yang kental dengan dialek budayanya. Dengan kata lain aku menyebutnya sebagai lagu yang mengandung unsur 'khatulistiwa'.

Instrumen yang bisa kita denger di detik 0:01 - 0:14 di video klip nya adalah alasan mengapa lagu ini mampu menghantarkan kita kepada hal lainnya yang lebih besar daripada lagu itu sendiri. Selanjutnya ditambah dengan suara Nadin yang ga terlalu hype plus lirik in English yang menambah ketajaman intonasi serta maksud bahwa musik ini bukan musik kualitas remaja kacangan. Dari awal sampai akhir, lagu ini berhasil diwarnai dengan pemilihan nada yang soft dengan membumbui irama style musik tradisional yang disajikan ala karakter EDM. Lirik dan irama saat 'eeeeeaaaaaaaa eeeeeoooooooo iiiiiiiiieeeeeeee membuatku berfantasi membongkar kenangan saat menjadi 'anak kampung' yang sejatinya dekat dengan budaya dan kearifan lokal (semacam Jathilan, Wayang Kulit dll) dimana memakai model yang sama guna menyita perhatian penonton.

Jadi dengan beberapa hal tersebut yang sudah disebutkan, seni dalam lagu ini mulai bekerja. 'All Good' tidak hanya mampu memanjakan telinga namun juga mampu membangkitkan nilai estetika tertentu sesuai dengan subjek pendengarnya. Hal ini lah yang dirasa membedakan antara musik sebagai seni dan musik sebagai 'formalitas' yang kadang di kuping hanya terdengar numpang lewat aja. Dan...... yap, sesuai dengan perkiraan bahwa video klip ini masih sedikit viewersnya tapi secara esensi itu tidak jadi soal karena nyatanya banyak pengunjung yang sudah komen dan menyanjung hasil karya ini. Lagipula ini EDM, masih butuh waktu untuk beberapa dari kita agar 'open minded' sehingga bisa menerima selera semacam ini.