Langsung ke konten utama

Agar Matematika Tak Ditakuti Siswa

Banyak problema seputar pendidikan yang harus diselesaikan di Negara kita, mulai dari tenaga pengajar, fasilitas lembaga pendidikan dan kurikulum. Salah satu hal yang melekat yang kemudian menjadi problema dan dilemma adalah seputar pemahaman mata pelajaran tertentu seperti halnya matematika. Bagi sejumlah siswa matematika adalah pelajaran yang membosankan dan sulit untuk dimengerti.
Berangkat dari masalah ini maka seringkali kita menilai seseorang bahwa dia itu tidak pandai atau bukan orang pintar lantaran nilai matematikanya selalu jelek. Predikat lain yang kemudian muncul adalah bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan selalu abstrak untuk dimengerti, maka dari itu paradigma ini harus diubah mulai dari sistem-sistem yang terkait. Langkah yang paling awal dan bias dilakukan adalah menjadikan matematika menjadi mata pelajaran favorit dan menyenangkan.
Sebenarnya merubah dan menanamkan sikap suka dan cinta terhadap matematika merupakan aspek penting. Memahami suatu materi akan lebih mudah jika diawali dengan rasa suka dan tertarik. Yang menjadi dilemma adalah mengingat matematika merupakan ilmu dasar dari perkembangan teknologi seperti sekarang ini dimana manusia memakainya dalam sebuah sarana media praktis dan menghibur. Jika asumsi ini mampu dipahami oleh sebagian besar siswa maka matematika akan menjadi mata pelajaran yang mampu menghibur.
Guna menjadikan mata pelajaran ini digemari oleh banyak pihak tentu saja diperlukan langkah-langkah awal, beberapa pengamat dan sumber mengatakan bahwa harus didahului dengan inisiatif tenaga pengajar beserta lembaga pendidikan tersebut agar siswa mampu memahami matematika secara menyeluruh. Seperti halnya pola mengajar yang dirubah agar siswa lebih mudah berinteraksi ataupun melalui instrument yang mampu membantu logika siswa. Dalam hal ini sarana teknologi mampu dijadikan sebagai suplemen untuk mendongkrak minat dan atensi dari peserta didik dan tentu saja hal ini harus diimbangi dengan tenaga pengajar yang juga berkompeten dan fasilitas yang memadahi.
Faktanya dalam memahami matematika hingga sekarang masih kebanyakan mengguanakan asas “1+1=2” dimana seolah siswa dipaksa menurut dan membatasi ekspresi mereka. Ada satu ungkapan yang mungkin dapat dijadikan motivasi “lebih penting proses daripada hasil akhir” dimana harusnya asas tersebut diganti dengan “1 buah jeruk ditambah 1 buah jeruk jumlahnya akan menjadi 2 buah jeruk”. Dalam aplikasinya maka siswa terlalu sering memahami rumus matematika sebagai hal mutlak tanpa sebab dan muasalnya serta untuk apa rumus tersebut.
Beberapa hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk diskusi kelompok bagi para siswa yang merasa tidak cepat dalam memahami materi. Sebenarnya hal ini juga terkait dengan mental siswa yang mampu berpikir kritis serta tidak malu untuk bertanya. Sikap dasar seperti ini sebenarnya bisa dilatih bahkan digembleng kepada peserta didik agar nantinya berguna untuk membantu proses belajar mengajar. Beberapa fakta ditemukan bahwa sebagian siswa tidak tahu terhadap suatu materi pembelajaran dikarenakan malu bertanya atau menganggap seolah mudah dan bias dimengerti.
Asumsi lama mengenai harus belajar soal dan mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu perlu dirubah menjadi lebih efisien. Pada dasarnya menjalin hubungan dengan suatu bilangan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan harus dicintohkan secara real dimana agar bias memahami secara lebih mudah. Mungkin jika hal ini sudah tuntas maka tidak ada asumsi bahwa anak IPA lebih pintar daripada anak IPS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Njawani; Filosofi Pedoman Perilaku

Filosofi Njawani dan Falsafah Jawa  - Diartikan sebagai orang Jawa yang hidup dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran leluhurnya. Banyak sekali orang yang berasal dari suku Jawa masih memakai tuntunan tersebut untuk bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain yang sesama suku ataupun berbeda budaya. Pedoman hidup untuk berperilaku, berpikir serta bagaimana cara untuk mencapai tujuan masyarakat Jawa pada umumnya diarahkan untuk tidak melukai sesama bahkan mengajak mereka untuk selaras.

High Context Dan Low Context

Secara umum, masyarakat di Indonesia sangat erat hubungannya dengan high context yang sebenarnya dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya masyarakat Jawa yang dipengaruhi oleh budaya sopan santun dalam berbicara dan berusaha menjaga sikap dalam bergaul menjadi aspek penting dalam terciptanya high context.

Kata Mutiara (Quotes) Terbaik Dalam Film Terkenal

Kata mutiara dalam sebuah film acapkali sengaja disematkan sebagai sarana penyampaian seni dan nilai-nilai kemanusiaannya. Bahwa menjadi penting ketika sebuah film mempunyai sebuah tuntunan hidup bagi para penontonnya. Tidak hanya sebagai hiburan saja, ratusan film yang telah kita tonton melalui dialog dan adegannya seringkali membekas serta berkesan di benak kita. Berikut beberapa kata mutiara (quotes) dari sejumlah film Barat ternama yang pernah hadir menghiasi pikiran penggemar: "Mereka mungkin mengambil hidup kita, tapi mereka tidak akan pernah mengambil kebebasan kita!" - Braveheart, 1995 "Nama saya adalah Maximus Decimus Meridius, komandan Pasukan Utara, Jenderal Legiun Felix, pelayan setia kaisar sejati, Marcus Aurelius. Ayah untuk anak laki-laki yang terbunuh, suami untuk istri yang terbunuh. Dan aku akan membalas dendamku, dalam kehidupan ini atau kehiduapn berikutnya" - Gladiator, 2000 "Aku tidak ingin bertahan, aku ingin hidup." - 12 Y...