About Me


High Context Dan Low Context

Secara umum, masyarakat di Indonesia sangat erat hubungannya dengan high context yang sebenarnya dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya masyarakat Jawa yang dipengaruhi oleh budaya sopan santun dalam berbicara dan berusaha menjaga sikap dalam bergaul menjadi aspek penting dalam terciptanya high context.


High context dapat dijelaskan sebagai konteks berbicara atau penyampaian maksud dan tujuan yang disampaiakan melalui pesan kepada seseorang atau sekelompok orang melalui serangkaian pemahaman tersendiri melalui proses internalisasi pesan. Pada dasarnya high context dapat diwujudkan dalam pola berbicara yang basa-basi, namun terdapat juga unsur ekplisit dan perilaku non verbal dalam penyampaian maknanya. Sedangkan low context lebih menekankan pada makna implisit atau kebalikan dari high context.

Sebenarnya high context dan low context sulit dibedakan, hal ini dikarenakan adanya unsur pemahaman yang subjektif dimana terpengaruh oleh suatu unsur budaya yang memberi ciri serta kebiasaan yang mempengaruhi dalam pola komunikasi seseorang. Misalnya pada masyarakat Jawa sendiri yang harus berbelit-belit dalam penyampaian pesan atau maksud dan tidak hanya terjadi dalam masyarakat Jawa saja, dapat dikategorikan sebagai high context, contoh:
Ibu kok hari ini cantik sekali sih, aku sudah tidak punya uang saku lagi bu. Minta uang saku dong bu? Jawab Ibunya : Ya,……. Ya nanti!

Berdasarkan contoh tersebut sebenarnya si anak hanya bermaksud untuk minta uang saku kepada Ibunya yang harus basa-basi terlebih dahulu untuk mengemukakan maksudnya. Sebenarnya cukup hanya dengan “Bu, minta uang saku ya?” dan jawabnya adalah “ya atau tidak!”. Hal inilah yang disebut dengan low context.

Pada dasarnya high context memang terjadi dalam suatu masyarakat yang kolektif dimana terdapat aspek lingkungan sekitarnya yang mendorong terciptanya hal tersebut dan untuk low context terjadi dalam masyarakat yang cenderung individualistik. Namun hal tersebut tidaklah mutlak seperti itu, dapat juga ditemui low context dalam masyarakat yang heterogen dan kolektif seperti di Indonesia. Sebagai contoh dalam lembaga resmi seperti di pengadilan ketika hakim bertanya kepada terdakwa atau saksi yang harus dijawab dengan kata “ya” atau “tidak” ataupun dalam sebuah keluarga (penulis jumpai dalam keluarga teman penulis) dimana tidak ada batasan pola perilaku komunikasi dan cenderung blak-blakan. Misalnya:
Mah minta duitnya, ga usah pake lama! Jawab ibunya: Neh duitnya!
Sang Ibu pun memberi uangnya tanpa ada rasa benci ataupun tersinggung, bahkan sebaliknya. Jadi dapat dikatakan bahwa pola komunikasi antar personal dapat diciptakan sesuai dengan yang diinginkan walaupun terdapat norma yang mengikat dan memberikan ciri khusus terhadap pola komunikasi tersebut.

KESIMPULAN
Unsur budaya dan ciri budaya sangat mempengaruhi pola komunikasi seseorang dimana seseorang dapat dikatakan cermin dari salah satu budaya. Dalam high context dan low context pada umumnya dapat dijumpai dalam masyarakat kolektif dan individual, namun konteks yang diciptakan tersebut dapat berasal dari suatu interaksi khusus yang dibangun atas dasar pola perilaku individu terhadap individu lain. Indonesia yang dikatakan high context tetap mempunyai unsur low context yang dapat diketemukan dalam kehidupan sehari-hari dari segala macam jenis budaya yang dikaitkan dengan unsur kebebasan pribadi dalam mengekspresikan pesan. 

Komentar