About Me


Feminisme John Storey

FEMINISME

Kali ini feminisme menurut John Storey dibagi menjadi 4 jenis yaitu feminisme radikal, feminisme Marxist, feminisme liberal dan dual systems theory.

1. Radical Feminists

Dijelaskan sebagai feminisme radikal akibat tekanan dan dominasi dari suatu system patriarki dimana posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki.


2. Marxist Feminist

Mengacu pada system produktivitas dalam mendapatkan laba dimana laki-laki mempunyai nilai lebih dan lebih mudah dalam mendapatkannya. Dalam feminisme ini terdapat kaitan dengan suatu pondasi ekonomi kapitalis yang aktif bersaing guna mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

3. Liberal Feminism

Feminisme jenis ini merupakan kombinasi dari feminisme radikal dan feminis Marxis dimana pada saat itu posisi, tempat dan ruang gerak wanita sangat kecil dan sempit. Intinya adalah hak bebas atau kebebasan wanita menjadi hal yang sangat sulit diwujudkan hamper dalam segala sektor

4. Dual System Theory

Datang dari radikal feminisme dan Marxist feminisme yang merupakan hasil dari artikulasi yang kompleks dari system patriarki dan kapitalis. Sepemahaman saya adalah perempuan merasa tertindas oleh 2 sistem tersebut dimana ruang gerak menjadi lebih sempit.

Di dalam kasus media, feminisme menjadi lebih berkembang dan kompleks. Hal ini terkait dengan suatu budaya pupoler saat itu baik budaya local, nasional, sector industri, media dan masih banyak sector lainnya.

Jika ingin mengaitkan suatu kasus feminisme di Indonesia dengan sejarah serta teori feminisme di Barat memang ada yang terkait atau relevan tapu ada juga yang tidak. Maksudnya adalah bahwa sejauh ini budaya kita Indonesia dengan berbagai macam budayanya dengan satu Negara yang dinamakan Indonesia ini sebenarnya tidak mampu mengakomodir masyarakatnya sehingga feminisme hanya dianggap sejarah Ibu Kartini, Dewi Sartika dan apa tindak lanjutnyasejauh ini masih tanda Tanya.

Kembali ke masalah feminisme universal bahwa dalam keterkaitannya dengan media visual (iklan dan film), tempat perempuan dapat dikatakan hanya sebagai “penghias”. Maksudnya adalah bahwa perempuan dijadikan “visual pleasure” yang dapat menarik perhatian khususnya laki-laki dan dalam konteks besar dapat menarik perhatian penontonnya. Hal ini sering kita jumpai saat pentas band dengan penari latar cewek-cewek sexy, iklan produk (terutama otomotif), sinetron, lawakan dan film layar lebar sekalipun.

Logika dari “visual pleasure” menurut saya adalah:

1. memanfaatkan laki-laki yang berposisi lebih agresif daripada perempuan

2. masih ada pandangan bahwa laki-laki mempunyai nilai lebih daripada perempuan

3. rata-rata / sebagian besar penyokong fondasi ekonomi dalam rumah tangga adalah laki-laki

4. analisis psikologi bahwa seseorang perempuan dapat menarik perhatian lawan jenis dan sejenisnya (sama-sama perempuan)

5. mengundang fantasi seseorang (terutama laki-laki)

6. menimbulkan kesan romantis

Secara simple dapat dikatakan begini, jika kita menonton suatu film, iklan, ataupun tayangan visual lainnya maka akan merasa garing jika tanpa figure seorang perempuan. Itu dapat diartikan sebagai 2 hal bahwa yang pertama perempuan memang dianggap lebih rendah dari laki-laki sehingga tidak mendapat tempat layaknya laki-laki atau memang bakat dan takdir perempuab seperti itu?

Gejala-gejala dalam upaya peningkatan taraf / derajat perempuan adalah dengan adanya majalh perempuan. Hal ini dijelaskan sebagai tempat sekaligus ruang untuk perempuan guna mengetahui informasi dunia mereka. Media semacam ini mempunyai fungsi dalam mempersempit dunia perempuan, dalam arti bahwa semacam tidak ada dunia patriarki atau laki-laki dalam majalah-majalah perempuan. Dengan begitu maka ada upaya yang tersirat dalam penegasan status perempuan yang harus lebih feminism dan lebih berkompeten daripada laki-laki.

Kembali ke masalah di Indonesia maka kasus feminisme akan menjadi kasus yang sulit, alasannya adalah:

1. tidak adanya UU mengenai gender. Sampai saat ini kita hanya disuguhkan UU Perlindungan Perempuan yang menurut saya masih banyak celah

2. beberapa budaya local Indonesia yang mempunyai histories sangat patriarki hingga masuk dalam agama yang mempengaruhi tata cara ibadah sekaligus budaya individu penganutnya dalam kehidupan sehari-hari

3. keterbatasan pendidikan mengenai hak-hak perempuan dalam masyarakat Indonesia, ketidakmampuan negara dalam mengatasi masalah gender

4. dalam kasus-kasus pelecehan terhadap perempuan mempunyai sifat sangat subjektif sehingga tidak seluruhnya dapat digeneralisasikan menjadi satu contoh kasus yang relevan



oleh : rioherlambang.blogspot.com

ilmu politik dan komunikasi

Komentar

  1. trimakasih untuk tulisannya

    BalasHapus
  2. cewek memang selalu dijadikan visual pleasure..tapi apakah selalu?
    dimana ya kira2 kesetaraan gender saat ini di Indonesia?

    BalasHapus
  3. cewek memang selalu dijadikan visual pleasure..tapi apakah selalu?
    dimana ya kira2 kesetaraan gender saat ini di Indonesia?

    tidak selalu, sebab pada dasarnya wanita adalah simbol dan objek penguat untuk penekanan daya tarik terhadap suatu hal...Jadi itu hanyalah selipan, content yang asli terletak pada apa yang ditawarkan

    BalasHapus

Posting Komentar

BAGAIMANA TANGGAPAN ANDA?